Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht) By : Novie Endah Rarangsari D’ Feminist


Sudah satu pekan ini  banyak even acara-acara rampung dilakukan untuk peringatan hari kartini yang puncaknya pada 21 april lalu, dari seminar-seminar dan diskusi yang mengangkat isu gender dan feminisme, even tahunan masyarakat para ibu-ibu, remaja putri dengan serentak mengenakan kebaya, aksi kader-kader PMII Sunan Ampel, sejuta bunga untuk kartini, aksi teatrikal, lomba kartini dan kartono dan masih segudang acara lagi , pun media yang seolah berlomba-lomba untuk mengangkat topik Kartini ke dalam beritanya. media televisi misalnya, mendadak menyoroti wanita-wanita tangguh yang memberikan kontribusi dalam berbagai bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan dan lain-lain. koran juga sama, topik berita utama mayoritas tentang sepak terjang tokoh wanita. hingga ke ranah para facebookers dan pegiat sosial media semuanya memberikan apreasi positif dengan mengangkat tema Kartini, entah karena sebagian dari mereka hanya mengikuti trend atau memang benar-benar mengerti esensi dari Hari kartini.

Peringatan hari kartini semestinya tidak hanya menjadi peringatan seremonial belaka, tetapi harus disertai refleksi terhadap ide-idenya. bagaimana ide-idenya yang menentang diskriminasi gender yang mengatasnamakan tradisi yang tertulis dalam kumpulan surat “Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht)”. Idenya tentang kesetaraan pendidikan bagi kaum pria dan perempuan dalam perjuangannya dia lalu mendirikan sekolah khusus wanita di Jepara. Refleksi terhadap ide-idenya lah yang seharusnya diperingati. Ironisnya banyak yang memperingati hari kartini hanya sebatas seremonial saja dengan mengenakan kebaya dan sanggul lalu berjalan halus selayaknya selir-selir kraton. padahal Kartini sendiri sangat menentang tradisi semacam itu. kartini menganggap bahwa tradisi seperti itulah yang semakin mengekang hak-hak kaum perempuan, dari sinilah Kartini menuntut kesetaraan, tradisi yang patriarkis dan feodal.

Apa yang sudah dilakukannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan bisa dinikmati hingga saat ini, di mana saat ini perempuan tidak lagi dianggap sebagai mahluk kedua setelah laki-laki dan mahluk pelengkapnya laki-laki, mahluk  seperti saat jaman feodal saat itu. Perempuan dan laki-laki sudah memiliki kedudukan yang sama di segala aspek kehidupan, tidak seperti jaman ketika Kartini hidup, yang bisa menikmati bangku pendidikan hanyalah kaum pria, sekarang baik pria dan wanita mendapatkan hak pendidikan yang sama, begitu juga dalam bidang pekerjaan, dan ruang public lain, misalkan dalam bidang politik, kesetaraan gender juga merupakan isu utama. salah satunya adalah adanya undang-undang yang menyatakan bahwa dalam daftar bakal calon anggota DPR dan DPRD setidak-tidaknya terdapat 30% keterwakilan perempuan, artinya wanita memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki jabatan sebagai wakil rakyat, sebagai menteri, atau bahkan sebagai presiden, demikian diranah organisasi kita, jika saat ini semua sudah sadar ruang hak perempuan sudah terbuka lebar, masihkah kader-kader putri PMII hanya tetap menjaga tradisi lama yang semi patriarkis?

Kondisi yang ada saat ini sangat kontras apabila dibandingkan kondisi sebelum abad ke 19, saat sebelum pergerakan feminisme di mulai di Indonesia. Feminisme sebagai paham yang teriakkan Kartini terhadap telinga-telinga perempuan Indonesia dalam berbagai bentuk perjuangan emansipasi wanita telah mengubah kultur masyarakat Indonesia secara revolusioner. Meskipun demikian dibalik kemajuan pesat yang disebutkan di atas masih banyak pula masalah yang harus dihadapi, di mana angka kekerasan terhadap kaum wanita masih tinggi, women trafficking (penjualan wanita) yang banyak melibatkan perempuan di bawah umur, hak-hak asasi dan kebebasan berekspresi yang masih terkekang budaya, dan masalah-masalah lain yang juga menimpa kader-kader putri PMII, misalkan jarang sekali terlihat diantara sebagian besar kader-kader putri tampil menjadi ketua rayon, komisariat, hingga PB, Co. departemen-departemen yang paling urgen, misalkan dep. pengkaderan dan gerakan, atas dasar jastifikasi seleksi alam kuantitas kader putri juga tidak sebanding dengan kader putra ketika memasuki proses kepengurusan di komisariat, cabang apalagi PB. oleh karena itulah kesetaraan gender ini sudah menjadi isu kita bersama, bahkan mejadi salah satu poin yang harus dicapai oleh KOPPRI, dan departemen-departemen pemberdayaan perempuan di seluruh komisariat dan rayon PMII se Indonesia. Meskipun tidak mudah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, perjuangan tetap harus terus dilakukan. Kartini dan pejuang-pejuang wanita di seluruh dunia sudah mempeloporinya, sekarang saatnya kita wanita-wanita Indonesia, kader kader putri PMII meneruskan perjuangan itu. Selamat hari Kartini, selamat berjuang perempuan Indonesia !!

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s