Menjual Ramadan di Televisi


Kita bisa tersesat kalau kita menonton televisi hari-hari ini. Kita bakal menyimpulkan bahwa Ramadan bukanlah bulan puasa, melainkan bulan hiburan dan musim banjir hadiah.

Lihatlah, semua stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan acara yang berkaitan – atau dikait-kaitkan – dengan Ramadan. Dari tahun ke tahun kita menyaksikan meningkatnya gaya berbusana para presenter acara maupun narasumber. Para perancang mode rupanya habis-habisan mengerahkan keahlian mereka untuk menghasilkan busana-busana seperti itu.
Di satu stasiun terkesan bahwa pembawa acara maupun narasumber mengenakan busana yang senada. Mereka seolah dijadikan peragawan/peragawati oleh perancang mode tertentu ataupun toko busana (butik).
Yang pria umumnya memakai peci — dengan variasi bentuk dan ornamen yang makin kaya (meski tidak berarti makin bagus). “Busana muslimah” yang perempuan pun modelnya kian semarak, dengan aneka hiasan yang sangat meriah (juga tak berarti makin menarik).
Semuanya punya ciri yang sama: penuh kombinasi warna-warni (yang tak selalu tepat). Gemerlap. Gemebyar. Anak-anak muda Jakarta punya istilah untuk itu: Ngejreng.
Para perancang dan pemakainya seakan mau mengumumkan kepada dunia: Islam pun bisa tampil keren, tidak kumuh sebagaimana terkesan selama ini. Orang bisa menjadi Muslim yang baik (terlepas dari makna kata ini) seraya tetap bergaya.
Bagaimana dengan materi dan substansi acaranya sendiri? Sama sekali tidak terlihat kemajuan. Materi ceramah umumnya itu-itu saja dari tahun ke tahun. Kuis-kuis yang digelar pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan elementer di seputar ajaran dan peristilahan agama Islam.
Yang berubah adalah hadiah-hadiahnya – makin menggiurkan. Untuk pertanyaan, “Apakah nama-nama Tuhan yang baik?”, yang bahkan diberi arahan tambahan oleh presenter agar mudah dijawab bahwa “jumlahnya ada 99”, seorang penelepon bisa mendapat uang berjuta-juta rupiah plus barang-barang tertentu dari para sponsor.
Yang juga makin mencolok adalah menonjolnya peran para pelawak dalam acara-acara itu. Ajaran-ajaran agama disampaikan dengan penuh canda dan tawa – dan secara umum tak ada kaitannya dengan makna puasa itu sendiri.
Kita belum pernah mendengar adanya keluhan atau “protes” dari lembaga atau ormas-ormas keislaman terhadap gejala yang ganjil ini: agama direpresentasikan oleh para pelawak, seolah agama adalah sesuatu yang lucu atau patut didakwahkan secara kocak.
Mengapa stasiun-stasiun televisi menyajikan acara-acara dangkal semacam itu? Argumen standar mereka: masyarakat memang menyukainya. Kalau publik suka, rating meningkat, iklan pun banyak masuk. Dari sudut kepentingan mereka, semua itu sah belaka, yaitu menjadikan Ramadan sebagai bulan bisnis dan promosi.
Namun dari segi keperluan peningkatan penghayatan keagamaan, tidakkah MUI dan ormas-ormas Islam yang berkepentingan dengan soal ini perlu melakukan sesuatu?
Mereka mungkin bisa mengembalikan Ramadan ini sebagai bulan puasa.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s