MAFIA BERKELEY, Apa sich?? Baca, Jangan Keget…!


Mafia Berkeley adalah julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan, yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia di masa awal pemerintahan Presiden Suharto. Sebagian besar dari menteri-menteri adalah lulusan doktor atau master dari University of California at Berkeley di tahun 1960-an atas bantuan Ford Foundation. Para menteri tersebut sekembalinya dari Amerika Serikat mengajar di Universitas Indonesia. Pemimpin tidak resmi dari kelompok ini ialah Widjojo Nitisastro. Para anggotanya antara lain Emil Salim, Ali Wardhana, dan J.B. Soemarlin. Dorodjatun Koentjoro-Jakti yang lulus belakangan dari Berkeley kadang-kadang juga dimasukkan sebagai anggota kelompok ini. Dengan teknik-teknik makro ekonomi yang mereka dapatkan dari Berkeley, mereka menetapkan berbagai kebijaksanaan makroekonomi dan deregulasi yang memacu kegiatan ekonomi Indonesia yang macet pada masa pemerintahan Sukarno. Menjelang akhir pemerintahan Suharto di tahun 1990-an, pengaruh mereka disaingi oleh para insinyur dan cendekiawan Islam yang dekat dengan B.J. Habibie, menteri riset dan teknologi dan kemudian wakil presiden.

Kegagalan Indonesia menjadi negara besar di Asia dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia selama 40 tahun terakhir disebabkan oleh ekonom yang disebut Mafia Berkeley. Mafia Berkeley adalah ekonom-ekonom yang dirancang untuk mendukung hegemoni Amerika Serikat (AS) dan merusak ekonomi Indonesia.

Demikian diungkapkan ekonom, Rizal Ramli, dalam seminar yang bertema “50 tahun, Mafia Berkeley vs Gagasan Alternatif Pembangunan Ekonomi Indonesia”, di Jakarta Senin (5/6). Ekonom Mafia Berkeley masih bercokol di Indonesia, meskipun rezim Soeharto telah terguling pada 1998. “Karenanya, tak aneh jika tidak ada perubahan kebijakan ekonomi di Indonesia, kata Rizal.

Menurut dia, Mafia Berkeley memang dirancang secara sistematis untuk mengontrol ekonomi Indonesia. Kebijakan ekonomi yang diambil berisi empat strategi utama, yakni kebijakan anggaran yang ketat dan penghapusan subsidi, meliberalisasi keuangan, meliberalisasi industri dan perdangangan, dan melakukan privatisasi.

Hal ini, kata Rizal, menyebabkan selama 40 tahun terakhir kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah tidak pernah memberikan perubahan bagi kesejahteraan rakyat. Berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan, seperti hasil rumusan dari IMF, Bank Dunia, dan USAID terbukti tidak banyak memberikan manfaat bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Hingga saat ini, lanjutnya, Mafia Berkeley banyak bercokol di sektor-sektor vital, seperti di Departemen Keuangan, Bank Indonesia, dan Bappenas. Tak mengherankan kebijakan yang mereka ambil tidak disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi lebih memprioritaskan perintah dari IMF dan Bank Dunia.

Rizal mengatakan Mafia Berkeley telah gagal dalam mengatasi krisis ekonomi sampai saat ini. Indikasinya kemiskinan masih meluas dan angka pengangguran masih tinggi. Pendekatan yang diambil selalu mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan kurang memperhatikan keadilan sosial.

Rizal menambahkan Indonesia harus meniru negara-negara yang berani mengambil kebijakan ekonomi yang independen dan tidak harus jadi perpanjangan tangan kepentingan ekonomi AS. Dia mencontohkan China yang tetap menolak melakukan liberalisasi di sektor keuangan.
Meskipun saat ini mempunyai cadangan devisa US$ 1 triliun, China lebih memprioritaskan penguatan sektor riil, yakni industri, pertanian, dan produk-produk ekspor. “Indonesia memiliki potensi untuk melakukan ini karena sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar,” katanya.

Sementara itu, ekonom dari North Western University Jeffrey A Winters mengatakan Mafia Berkeley telah dirancang oleh AS sejak tahun 1956. Menurut Jeffrey, para mafia Berkeley itu berperan menjadi tim sukses agenda-agenda kebijakan IMF dan Bank Dunia di Indonesia saat ini.

Sementara itu, ekonomi Kwik Kian Gie, seusai menjadi pembicara dalam seminar tersebut menyatakan bahwa Mafia Berkeley merupakan organisasi tanpa bentuk yang menjalankan kebijaksanaan kartel yang terdiri dari IMF, London Club, Paris Club, ADB, World Bank dan negara-negara kreditor. Mereka menjalankan kebijakan ekonomi yang salah, seperti yang tercermin dari jumlah utang Indonesia dan berbagai indikator ekonomi lainnya.

 

Resensi

Buku : MAFIA BERKELEY DAN PEMBUNUHAN MASSAL DI INDONESIA

Penulis : David Ransom

Diterbitkan Tahun 2006 (Koalisi Anti Utang)

Koalisi Anti Utang (KAU) menyoroti kebijakan utang luar negeri pemerintah Indonesia yang telah dimulai sejak jaman kemerdekaan. Menurut KAU, utang selalu diikuti intervensi asing ke dalam kebijakan dalam negeri Indonesia. Salah satunya ketika AS memaksa Indonesia untuk keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam. Karena tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi, pemberian pinjaman itu akhirnya tertunda pencairannya (Weinstein, 1976: 210).

Trend utang pasca kemerdekaan mulai terhenti melalui istilah terkenal “Go to hell with your Aid” yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Masuk akal jika akhirnya isu keterlibatan asing (baca : CIA) dalam proses kejatuhan Soekarno santar dalam scenario G30SPKI.

Peranan 2 (dua) Aristokrat Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo dan Sudjatmoko, pasca kemerdekaan Indonesia. Indonesia yang diakui Belanda secara politik dalam meletakkan konsep dan kerangka pikir untuk pembangunan Bangsa Indonesia.

Keterlibatan Universitas terkenal di Negara-negara barat (MIT, Cornell, Berkeley, dan Harvard) untuk mencetak ahli-ahli yang namanya juga dipromosikan oleh kalangan barat cukup strategis untuk mencekoki paham “liberalis” kepada kepala calon-calon pemimpin Indonesia. Bahkan menurut Buku ini, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (dengan seorang Dekan bernama Soemitro Djojohadikusumo) pun disulap untuk turut mencekoki paham-paham ekonomi barat.

SESKOAD (Sekolah untuk para perwira angkatan darat) dipandang sebagai salah satu tempat bagi tangan-tangan Berkeley. Mengirimkan sejumlah perwira menengah ke luar negeri untuk berlatih. Ketika kembali, perwira-perwira ini yang akan menjadi pemimpin-pemimpin untuk menghadapi ideologi sosialis / komunis yang tidak menguntungkan barat.

Pada bab III “Harvard, semuanya dibawa pulang” saya menemukan mengapa kesejahteraan bangsa Indonesia begitu sulit tercapai, mengapa semua terlihat benar dari sisi ilmu ekonomi, mengapa saat ini tempat-tempat “basah” dan menghasilkan uang banyak dikuasai Negara asing?

Buku yang diterbitkan KAU ini bisa saja sebuah buku provokatif, tidak memiliki data valid dan banyak merupakan isu-isu rekayasa. Tetapi membaca buku ini dan melihat keadaan bangsa Indonesia, sungguh memiliki korelasi kuat bukan?

Adalah baik jika tidak melihat personal-personal di dalam buku ini sebagai permasalahan, misalkan dengan menuding Soemitro, Jenderal AD, Soedjatmoko atau Soeharto sekalipun sebagai peletak dasar Mafia Berkeley di Indonesia. Lebih baik untuk menatap waktu-waktu ke depan mengenai kebijakan-kebijakan pro kapitalisme yang sering dibuat oleh para pemimpin negara ini.

Hajat Pemilu 5 tahun sekali begitu murah jika harus disogok dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai), JAMKESMAS, PNPM, dan sejumlah program lain yang sejatinya hanya mengeluarkan receh-receh jika dibandingkan dengan bongkahan-bongkahan ‘emas’ yang dibawa ke luar negeri oleh pihak Asing.

Salah satu ucapan paling membuat saya ‘bergidik’ di buku ini :

“Kejadian di Indonesia pada tahun 1965 adalah merupakan kejadian terbaik lagi kepentingan Uncle Sam (Amerika Serikat – Pen) sejak Perang Dunia II”

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s